Total Tayangan Laman

Kamis, 23 Desember 2010

Museum Tani, Saksi etos kerja petani



    Museum Tani Jawa Indonesia mengingatkan kembali etos kerja para petani. Berlokasi di Kampung Wisata Candran, Kebonagung, Imogiri Bantul,museum ini menyimpan alat pertanian tradisional yang sudah digunakan sejak jaman dahulu dan nyais punah. 
    Sebut saja bajak dan ani ani. Dua alat pertanian itu kini nyaris punah. Petani lebih memilih menggunakan tarktor ketimbang membajak dengan kerbau. Biaya operasionalnya juga lebih murah, cukup dengan uang sewa dan bahan bakar saja jam kerja membajak sawah jauh lebih singkat. 
    Sementara kerbau atau sapi menjadi aset untuk dijual belikan. Tak seperti bajak, ani ani kalah populer . Alat pemetik padi ini ditiunggalkan karena tidak efektif. Maklum saja pemetikan dilakukan satu persatu batang padi, tidak seperti sabit yang bisa digunakan memotong padi seikat batang sekaligus. 
    Museum Tani diresmikan pada 1997. Koleksi alat pertanian lainnya antara, sabit, gepyak padi, munthu, garu , tampah, plancong dan alat-alat lainnya. Total koeksi sekitar 59 item peralatan.
    Selai alat pertanian, pengunjung juga akan menemui aneka alat dapur tradisional. Alat dapur memliki keterkaitan erat dengan dunbia pertanian. Dengan alat alat inilah, produksi pertanain di olah menjadi bahan poangan jadi.
    Bukti keterikatan petani dengan budaya juga terlihat di museum ini. Yakni alat kesenian yang jamak digunakan petani. Diantaranya alat musik pukul  kenthongan dan juga alat multi fungsi lesung.
    Selain untuk menumbuk padi,lesung menjadi instrumental pengiring tarian gejog lesung. Tarian ini dipentaskan sebagai wujud sukur para petani di desa. Biasannya pementasannya saat wiwitan sebelum menanam dan saat usai panen.     
    Koleksi lain yang jarang ditemui di tempat lain adalah peralatan kesenian Nini Thowong. Kesenian ini populer dimainkan di desa-desa puluhan tahun lalu. tujuannay sama, sebagai wujud syukur dan ekpresi kegembiraan petani dengan hasil bercocok tanam mereka.
    "Pengunjung tidak hanya melihat alat pertanian saja atau dihibur atraksi kesenian pada waktu waktu tertentu. Namun juga dilibatkan langusng dengan aktifitas pertanian. Makanya musuem ini disebut musuem hidup," ujar staf Museum Wintala Kepada Harian Jogja.
    Pengunjung bisa ikut merasakan proses bertani di lahan sekitar museum. Paket ini biasanya dimanfaatkan pengunjung dalam jumlah banyak. Mereka terjun ke sawah untuk ikut menanam benih padi, membajak sawah hingga memanen. 
    Praktek ini terbukti mendapat banyak peminat. Bahkan sempat pula diadakan lomba menanam padi tingkat nasional di komplek museum. Sebagai wahana edukasi, kegiatan ini bertujuan agar peserta yang sebagian besar pelajar tahu betul aktifitas bertani.
    "Indonesia kan masih agraris, masyarakat desanya mayoritas bertani. Keberadaan musuem sekaligus wahana edukasi agar generasi penerus mencintai pertanian," sambung Wintala.
    Hal senada diungkapkan, staf Museum lainnya, Ponijo. Kelak disaat semua alat serba mesin, museum menjadi saksi perubahan itu. Alat alat tradisional, lanjutnya, menjadi benda klangenan yang sulit ditemukan. Di saat itu, alat alat ini tidak lagi dipandang sebelah mata dan mulai dicari orang.
    "Sekarang saja didesa yang masih memakai garu (bajak) tinggal satu dua orang. Sebagian besar sudah pakai traktor," pungkasnya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar